Bibit Sambungan, Jadi Andalan (singkong)

BANDARJAYA--Pada awalnya, Ibrahim (45) dan istrinya, Rosmanila (30), menekuni usaha bibit sambungan ubi kayu hanya sebagai usaha sampingan untuk mencari tambahan pendapatan.

Tapi, kegiatan yang dilakukan dua tahun terakhir itu--yang dimulai setelah ditawari agen pengumpul--kini justru menjadi mata pencarian andalan warga Bandarjaya, Kecamatan Terbanggi Besar, Lampung Tengah tersebut.


Bahkan, karena keuletan dan ketekunannya membuat bibit sambungan ini, Ibrahim dikontrak sebuah perusahaan di Kalimantan. Ia diberi tanggung jawab melatih petani-petani di sana untuk membuat bibit singkong dengan cara sambung.

Cara membuat bibit sambungan tanaman singkong itu sangat mudah, tapi membutuhkan kesabaran dan keuletan. Alat yang digunakan cukup sebuah golok kecil dan kayu alas untuk memotong batang singkong serta plastik es lilin.

Bibit singkong yang dibutuhkan jenis karet dan kasesat. Alasan dipilihnya jenis itu karena hasilnya melimpah juga tahan hama penyakit. Jika dirawat dengan baik, tanaman hasil sambungan ini bisa menghasilkan umbi yang beratnya mencapai belasan kilogram.

Cara membuat bibit sambungan itu, batang singkong jenis kasesat sepanjang 1,5 meter dipotong miring. Batang singkong karet sepanjang 10--15 cm juga dipotong miring searah. Kedua potongan batang singkong ini disambungkan dan selanjutnya diikat kuat dengan plastik es. Selanjutnya, batang-batang singkong yang sudah tersambung ini diletakkan di kebun dengan posisi berdiri tanpa harus disiram atau dipupuk. Selama masa penyemaian, bibit singkong ini juga bisa mati karena kekurangan air.

Untuk mengantisipasinya, terutama musim kemarau, Rosmalina terkadang menyirami bibit singkong ini.

Penyemaian membutuhkan waktu setengah bulan hingga daun-daunnya mulai keluar yang menandakan penyambungan berhasil dan bibit siap tanam.

"Ada juga cara yang baik dengan membuat lubang berdiamater 50 cm dan batang singkong setekan dimasukkan secukupnya, jangan sampai berjejalan. Tujuannya memberi ruang agar akar dari bagian batang kasesat segera keluar," ujar Rosmanila.

Dalam sehari, Rosmanila bisa membuat 300 bibit sambungan. Bahan untuk bibit ia dapatkan dari agen pengumpul. Biasanya, agen pengumpul menyerahkan satu ikat batang singkong karet dan empat ikat batang singkong kasesat.

Rosmanila memulai aktivitas menyambung batang singkong itu pukul 09.00 sampai pukul 15.00 usai menyelesaikan pekerjaan rumah. "Kerja begini enaknya tidak usah keluar rumah dan masih bisa ngurus anak-anak, hasilnya juga bisa menutupi kebutuhan sehari-hari," terang dia.

Dari satu ikat batang singkong karet, Rosmanila bisa menghasilkan bibit sambungan sebanyak 250 batang dan seikat singkong kasesat bisa jadi 50 batang bibit.

Untuk satu batang bibit siap tanam, Rosmanila mendapat upah Rp150 dari agen pengumpul.

Tidak semua bibit yang disemai hidup pasalnya hama juga kerap menyerang.

Di antaranya batang singkong yang dijadikan bakalan usianya kurang, patah leher lantaran batang singkong kasesat usianya masih muda, hama kalajengking, dan kurangnya curah hujan.

Dari 300 bibit, saat disemai, yang terserang penyakit hingga mati bisa mencapai 50--70 batang.

"Paling banyak mati biasanya karena kencing kalajengking dan kekurangan air, jarang yang mati patah leher. Sebab, batang singkong yang akan disetek disortir dahulu kalau masih muda tidak dipakai," ujar Rosmanila.

Sementara itu, agen pengumpul memperoleh batang singkong untuk bakalan bibit dengan cara memborong kebun yang tengah panen. Agen membeli batang singkong jenis karet dan kasesat untuk bakalan itu Rp5.000 per ikat. Sedangkan bibit yang ia kumpulkan dari Rosmanila dan rekan-rekannya dijual ke pengusaha perkebunan atau perusahaan seharga Rp500 per batang
Posting Komentar