Candi Jolotundo

Nama Jolotundo diambil dari nama pertapaan Jeluk (=sebutan) dan Tundo (=naik). Secara administratif Candi Jolotundo terletak di Dukuh Bale Kambang Seloliman, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, Propinsi Jawa Timur. Jolotundo yang berada dil lereng barat Gunung Penanggungan itu memiilki ketinggian kurang lebih 525 m dpl. Candi Jolotundo merupakan bangunan petirtaan (kolam) berdenah empat persegi panjang berukuran 18,1m dan 12m berbahan batu andesit menghadap ke barat. Disisi utara, timur, dan selatan terdapat dinding pembatas, sedangkan sisi barat terbuka.

Air candi Jolotundo yang kandungan mineralnya menempati posisi 5 tertinggi di dunia ini bersumber dari atas dinding sisi timur yang dialirkan ke bilik kolam dan teras. Selanjutnya air tesebut mengalir menuju ke kolam indik melalui pancuran kecil.

Tulisan yang menempel pada dinding candi menggunakan huruf Palawa-Sansekerta kuno. Sisi kanan candi relief tersebut bertuliskan tahun 889 C., sedangkan pada kirirelief membentuk tulisan gembeng yang berarti pemakaman. Petirtaan dengan pancurannya memiliki arti simbolis sebagai replika Gunung Mahameru dalam konsep Hindu. Di candi ini terdapat relief cerita yang terdiri dari 16 panil. Panil 1-13 berisikan cerita dari kitab Mahabarata. Selanjutnya dari panil 14-16 berisikan cerita dari kitab Khatasaritsagara yang menceritakan tentang pangasingan Udayana beserta Ibunya-Mrgayawati-di gunung Udayaparwa. Setelah 14 tahun dalam pengasingan, Udayana bertemu dengan ayahnya yaitu Sahasranika, raja kerajaan Vatsa. Candi Jolotundo juga merupakan tempat pertapaan Airlangga sebelum ia menjadi raja. Pada generasi selanjutnya pertapaan ini juga dilakukan oleh anaknya, Tilisuji.

Mengenai fungsi candi ini masih menjadi perdebatan. Menurut Muusses, Van Stein Cal-lenfels dan N.J Kroom candi ini merupakan makam Udayana, seorang raja di Bali. Hal ini dipertegas dengan ditemukannya kotak yang terbuat dari batu yang berisi abu. WF,Stutterheim berpendapat candi ini merupakan makam Makuta Wangsawardhana. Sedangkan menurut FK,Posh, candi ini adalah tempat pemujaan leluhur yang didirikan oleh Udayana ketika masih berumur 14 tahun. Kempers berpendapat apabila tahun 899 C yang terpahat di dinding sisi timur adalah tahun pendirian bangunan ini. Maka, tidak mungkin makam seorang Udayana, karena Udayana masih memerintah sampai dengan 1022 M. Sedangkan menurut kitab Bhatat Kacasraya, fungsi pemandian suci atau petirtaan ini adalah sebgai tempat ziarah bagi orang yang kesusahan dan penat pikiran.

Berdasar relief cerita dan temuan yang bertuliskan nama Dewa Isana dan Agni, maka candi ini berlatar belakang agama Hindu. Candi ini didirikan pada masa pemerintahan kerajaan Kahuripan yang berpusat di Kediri. Candi ini telah dipugar pada tahun 1991/1992 sampai dengan tahun 1993/1994 melalui proyek Pemanfaatan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jawa Timur.

Candi Jolotundo meski hanya dikunjungi oleh segelentir wisatawan lokal, terutama muda-mudi dan masyarakat yang ingin membuktikan khasiat air petirtaan yang konon membuat awet muda, namun pada malam hari, situsd ini banyak dikunjungi oleh orang-orang yang hendak melakukan perjalanan spiritual, mengirim sajen (sesaji) dan menyalakan dupa.


Posting Komentar