Harga Pangan Melonjak Tajam

Dampak Rencana Kenaikan Harga BBM

BALIKPAPAN(Pos Metro)--Rencana kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) mencapai 30 persen ternyata sudah berimbas buruk pada harga bahan pangan yang ada di pasaran. Walaupun kenaikan harga BBM masih berupa rencana dan baru akan diputuskan Juni mendatang, harga-harga bahan pangan duluan naik, malah ada harga beberapa bahan pokok yang naik hingga lebih dari 100 persen.

Semenjak ada kabar BBM mau naik, harga-harga mulai naik yang paling mencolok adalah harga bawang merah yang naik lebih dari 100 persen,” ungkap Diana, salah seorang pedagang bawang di pasar tradisional Pandansari.

Pantauan Post Metro di Pasar Pandansari pada Sabtu (10/5), harga bahan-bahan, terutama bahan pokok sudah melambung tinggi dan kenaikan yang sangat mencolok terjadi pada harga bawang merah yang naik lebih dari 100 persen. Semula harga bawang merah hanya Rp 9 ribu perkilogram, namun begitu ada rencana kenaikan BBM kini bawang merah harganya menjadi Rp 19 ribu per kilogram. Melambungnya harga juga terjadi pada bawang bombay yang awalnya hanya Rp 10.500 perkilogram menjadi Rp 21 ribu perkilogram.

Harga beras dan minyak makan curah meski tidak mencolok namun tetap terkena imbas isu kenaikan BBM.(lihat boks, Red)

”Harga beras naik minyak makan dan telur meski sedikit namun tetap terkena imbas isu kenaikan BBM,” terang Herlinda salah seorang pedagang beras di Pasar Pandansari.

Kenaikan harga ini diakui para pedagang sangat berpengaruh pada pendapatan mereka. Bagaimana tidak, semenjak harga-harga melambung omset perhari mereka rata-rata turun hingga mencapai 50 persen. ”Masih isu saja harga-harga sudah naiknya gila-gilaan bagaimana kalau BBM benar-benar naik bisa-bisa pasar bisa sepi pembeli,” keluh Diana.

Sejumlah pembeli kepada Post Metro di Pasar Pandansari mengaku pusing dengan terjadinya kenaikan bahan pangan sementara harga BBM belum secara resmi diumumkan naik oleh pemerintah. “Mestinya Pemda melakukan kontrol harga pasar. BBM belum naik harga-harga barang sudah naik, bagaimana nih pak wali kota,” kata Yanto yang mengantar istrinya, Lastri berbelanja.

Lastri menukaskan, gaji suaminya sebagai karyawan swasta sebesar Rp 1,3 juta per bulan sama sekali tidak bersisa untuk membiayai kehidupan keluarga. Kenaikan BBM ia mengatakan, pasti akan berdampak luas dan menambah angka kemiskinan. “Belum lagi mikirin biaya anak sekolah. Pusiiing,” seru ibu beranak dua ini.

Di tempat terpisah, Sukemi penjual nasi kuning mengaku pusing dengan naiknya harga bahan pangan di Kota Minyak. Nasi yang ia jual seharga Rp 6 ribu per bungkus rencananya akan dinaikkan menjadi Rp 7.500 untuk bisa memperoleh keuntungan. “Buat belanja ke pasar saja butuh bensin, habis gitu harga-harga naik, kalau cuma dijual (nasi kuning, Red) Rp 6 ribu perbungkus untungnya ndak ada. Tapi kalau dinaikkan takutnya yang beli malah sepi. Bingung mas, sekarang beban hidup makin berat,” kata janda beranak dua yang tinggal di kawasan Gunung Sari Ilir ini.(moe)

Kenaikan harga pangan akibat rencana bakal naiknya BBM:

SEBELUM SESUDAH

  • Bawang merah : Rp 9.000 / Kg Rp 19.000 / Kg
  • Bawang bombay : Rp 10.500 / Kg Rp 21.000 / Kg
  • Bawang Putih : Rp 3.200 / Kg Rp 8.000 / Kg
  • Kentang : Rp 4.000 / Kg Rp 4.000 / Kg
  • Beras Sulawesi : Rp 11.5000 / 25 Kg Rp 13.5000 / 25 Kg
  • Minyak makan curah : Rp 7.000 / liter Rp 7.500 / liter
  • Telur ayam : Rp 850 / butir Rp 900 / butir

Sumber: Pedagang Pasar Pandansari

Posting Komentar